Dalam bukunya yang
berjudul The Improbability Principle, peneliti dan Emeritus Professor of
Mathematics di Imperial College, Inggris, Professor David Hand berkata bahwa
kemungkinan seseorang untuk tersambar petir adalah satu dalam 300.000.
Walaupun kemungkinan
tersebut terdengar kecil, tetapi dengan banyaknya populasi dunia, sambaran
petir telah menjadi penyebab kematian 4000 orang setiap tahunnya. Angka
tersebut telah dikurangi dengan 90 persen korban yang selamat.
Padahal, sambaran petir
terjadi begitu cepat dan jumlah listrik yang mengalir pada tubuh sangat kecil.
Mengapa sambaran petir bisa begitu fatal?
Mary Ann Cooper,
seorang dokter gawat darurat yang telah pensiun dan peneliti petir, berkata
kepada CNN 25 Mei 2017 bahwa mayoritas listrik dari sambaran petir mengalir di
luar tubuh dalam efek flashover.
Listrik yang mengalir
di luar tubuh ini bisa bereaksi dengan keringat atau tetesan air hujan pada
kulit. “Volume air memuai ketika diubah menjadi uap, jadi jumlah kecil pun bisa
menyebabkan ledakan uap. Reaksi ini benar-benar meledakkan baju Anda,” ucapnya.
Cooper yang pernah
menulis sebuah studi mengenai luka akibat sambaran petir sekitar empat dekade
lalu berkata bahwa kehilangan kesadaran adalah efek yang paling sering
ditemukan dalam laporan 66 dokter yang menjadi data penelitiannya. Lalu,
sekitar satu per tiga korban juga mengalami kelumpuhan sementara pada lengan
dan kaki mereka.
Sementara itu, efek
yang lebih berbahaya adalah ketika aliran listrik menghentikan jantung.
Untungnya, Chris Andrews, seorang dokter dan peneliti petir di University of
Queensland Australia, berkata bahwa jantung memiliki alat pacu alami yang akan
mereset dirinya sendiri.
Sebaliknya, masalah
terbesar menurut Andrews adalah ketika petir mematikan area otak yang
mengontrol pernafasan. Dia berkata bahwa bagian tubuh ini tidak bisa mereset
dirinya sendiri sehingga persediaan oksigen korban akan terjun bebas dan
membuat jantung terserang kembali.
“Jika seseorang yang
masih hidup bilang bahwa dia pernah tersambar petir, kemungkinan besar alat
pernafasan mereka tidak mati sepenuhnya,” ujarnya.
Walaupun demikian,
bukan berarti bahwa tetap hidup setelah tersambar petir tidak memiliki
konsekuensi apa pun. 90 persen dari korban yang selamat mengalami berbagai efek
jangka panjang dan pendek seperti serangan jantung, kebingungan, kejang, tuli,
sakit kepala, kehilangan memori, hingga perubahan kepribadian.
Menganalogikannya
seperti komputer yang terganggu akibat sengatan listrik, Cooper berkata bahwa
petir juga bisa merusak otak dengan cara serupa. “Walaupun luarnya tampak
baik-baik saja, tetapi software yang mengontrol fungsinya telah rusak,”
katanya.
No comments:
Post a Comment