A. Pendekatan Kesusastraan
1.1 Pengertian sastra dan seni
1. Roman
Roman adalah bentuk prosa baru yang mengisahkan kehidupan pelaku utamanya dengan segala suka dukanya. Dalam roman, pelaku utamanya sering diceritakan mulai dari masa kanak-kanak sampai dewasa atau bahkan sampai meninggal dunia. Roman mengungkap adat atau aspek kehidupan suatu masyarakat secara mendetail dan menyeluruh, alur bercabang-cabang, banyak digresi (pelanturan). Roman terbentuk dari pengembangan atas seluruh segi kehidupan pelaku dalam cerita tersebut.
4.3 Alasan-alasan yang mendasari penyajian puisi dalam IBD
1.1 Pengertian sastra dan seni
Secara etimologis kata sastra berasal dari bahasa
sansekerta, dibentuk dari akar kata sas- yang berarti mengarahkan, mengajar dan
memberi petunjuk. Akhiran –tra yang berarti alat untuk mengajar, buku
petunjuk..Secara harfiah kata sastra berarti huruf, tulisan atau karangan. Kata
sastra ini kemudian diberi imbuhan su- (dari bahasa Jawa) yang berarti baik
atau indah, yakni baik isinya dan indah bahasanya. Selanjutnya, kata susastra
diberi imbuhan gabungan ke-an sehingga menjadi kesusastraan yang berarti nilai
hal atau tentang buku-buku yang baik isinya dan indah bahasanya.Selain
pengertian istilah atau kata sastra di atas, dapat juga dikemukakan batasan /
defenisi dalam berbagai konteks pernyataan yang berbeda satu sama lain.
Kenyataan ini mengisyaratkan bahwa sastra itu bukan hanya sekedar istilah yang
menyebut fenomena yang sederhana dan gampang. Sastra merupakan istilah yang
mempunyai arti luas, meliputi sejumlah kegiatan yang berbeda-beda. Kita dapat
berbicara secara umum, misalnya berdasarkan aktivitas manusia yang tanpa
mempertimbangkan budaya suku maupun bangsa. Sastra dipandang sebagai suatu yang
dihasilkan dan dinikmati.
Seni adalah suatu hal yang
diciptakan oleh manusia yang mempunyai unsur keindahan di dalamnya. Menurut
ensiklopedi bahasa Indonesia seni merupakan ciptaan dari segala hal yang
memiliki keindahannya sehingga orang senang untuk melihat dan mendengarkannya.
1.2 Peranan sastra
Prosa, puisi, lakon, skenario, skripsi, risalah
ilmiah, esei, kolom, berita, surat, proposal, catatan harian, laporan,
pandangan mata, pidato, ceramah, transkripsi percakapan, wawancara, iklam,
propaganda, doa dan sebagainya semuanya jadi termasuk sastra, karena
mempergunakan bahasa.
Semua sektor kehidupan, seluruh aktivitas manusia
tak bisa membebaskan diri dari bahasa. Bahkan olahraga yang jelas-jelas
menitikberatkan pada aktivitas raga, tetap saja membutuhkan bahasa dalam
menumbuhkan dan mengembangkan dirinya. Dengan cakupan yang begitu dahsyat,
sastra tidak mungkin tidak berguna. Demikianlah mahasiswa yang sedang menekuni
berbagai jurusan, akan selalu, suka tak suka berhubungan dengan sastra.
Kesusastraan (prosa dan puisi) sesungguhnya terkait
dengan seluruh aspek kehidupan. Hanya saja karena pemaparannya menempuh lajur
rekaan imajinasi, sehingga nampak semu. Tapi dalam kesemuannya itu, sastra
merefleksikan fenomena hidup beragam dengan mendalam, mengikuti cipta-rasa-karsa
penulisnya.
Untuk itu memang diperlukan kesiapan: apresiasi,
interpretasi dan analisis, sehingga dunia rekaan di dalam sastra jelas
kaitannya dengan seluruh aspek kehidupan. Kritik sebagai perangkat penting yang
sesungguhnya berfungsi menunjukkan arti kehadiran sastra, kebetulan sangat
parah di Indonesia, sehingga kehadiran sastra semakin tenggelam hanya sebagai
hiburan.
Sastra memang memiliki potensi yang hebat untuk
menghibur. Dan karenanya sebagai barang komoditi nilainya tinggi. Kaitannya
dengan bisnis dan industri juga meyakinkan. Sebuah karya sastra dapat meledak,
mengalami ulang cetak setiap tahun dengan oplag raksasa dalam berbagai bahasa.
1.3 Hubungan sastra dan seni dengan ilmu budaya dasar
Hubungan sastra dan seni dengan ilmu budaya dasar
adalah sama-sama memiliki objek yang sama yaitu manusia. sama-sama mempelajari
hubungan antar manusia melalui suatu komunikasi yang beraneka ragam macamnya.
dan bayangkan jika manusia hidup tanpa seni. Jika manusia hidup tanpa bisa
menyalurkan ekspresi mereka atau tidak bisa berkomunikasi dengan manusia
lainnya, maka akan menggangu kejiwaan atau psikologis manusia tersebut.
B. Ilmu Budaya Dasar yang Dihubungkan Dengan Prosa
2.1 Pengertian prosa
Prosa adalah suatu jenis tulisan yang dibedakan
dengan puisi karena variasi ritme yang dimilikinya lebih besar, serta bahasanya
yang lebih sesuai dengan arti leksikalnya. Kata prosa berasal dari bahasa Latin
"prosa" yang artinya "terus terang". Jenis tulisan prosa
biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karenanya, prosa
dapat digunakan untuk surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta
berbagai jenis media lainnya.prosa juga dibagi dalam dua bagian,yaitu prosa
lama dan prosa baru,prosa lama adalah prosa bahasa indonesia yang belum
terpengaruhi budaya barat,dan prosa baru ialah prosa yang dikarang bebas tanpa
aturan apa pun.
2.2 Jenis-jenis prosa
Prosa terbagi dalam 4 (empat) jenis, yaitu :
Prosa terbagi dalam 4 (empat) jenis, yaitu :
- Prosa naratif
- Prosa deskriptif
- Prosa eksposisi
- Prosa argumentatif
- Prosa lama
- Prosa Baru
2.3 5 (lima) komponen dalam prosa lama
- Hikayat
Hikayat,
berasal dari India dan Arab, berisikan cerita kehidupan para dewi, peri, pangeran,
putri kerajaan, serta raja-raja yang memiliki kekuatan gaib. Kesaktian dan
kekuatan luar biasa yang dimiliki seseorang, yang diceritakan dalam hikayat
kadang tidak masuk akal. Namun dalam hikayat banyak mengambil tokoh-tokoh dalam
sejarah. Contoh: Hikayat Hang Tuah, Kabayan, si Pitung, Hikayat si Miskin,
Hikayat Indra Bangsawan, Hikayat Panji Semirang, Hikayat Raja Budiman.
2. Sejarah
Sejarah
(tambo), adalah salah satu bentuk prosa lama yang isi ceritanya diambil dari
suatu peristiwa sejarah. Cerita yang diungkapkan dalam sejarah bisa dibuktikan
dengan fakta. Selain berisikan peristiwa sejarah, juga berisikan silsilah
raja-raja. Sejarah yang berisikan silsilah raja ini ditulis oleh para sastrawan
masyarakat lama. Contoh: Sejarah Melayu karya datuk Bendahara Paduka Raja alias
Tun Sri Lanang yang ditulis tahun 1612.
3. Kisah
Kisah,
adalah cerita tentang cerita perjalanan atau pelayaran seseorang dari suatu
tempat ke tempat lain. Contoh: Kisah Perjalanan Abdullah ke Negeri Kelantan,
Kisah Abdullah ke Jedah.
4. Dongeng
Dongeng, adalah suatu cerita yang bersifat khayal.
Dongeng sendiri banyak ragamnya, yaitu sebagai berikut:
- Fabel, adalah cerita lama yang menokohkan binatang sebagai lambang pengajaran moral (biasa pula disebut sebagai cerita binatang). Contoh: Kancil dengan Buaya, Kancil dengan Harimau, Hikayat Pelanduk Jenaka, Kancil dengan Lembu, Burung Gagak dan Serigala, Burung bangau dengan Ketam, Siput dan Burung Centawi, dan lain-lain.
- Mite (mitos), adalah cerita-cerita yang berhubungan dengan kepercayaan terhadap sesuatu benda atau hal yang dipercayai mempunyai kekuatan gaib. Contoh: Nyai Roro Kidul, Ki Ageng Selo, Dongeng tentang Gerhana, Dongeng tentang Terjadinya Padi, Harimau Jadi-Jadian, Puntianak, Kelambai, dan lain-lain.
- Legenda, adalah cerita lama yang mengisahkan tentang riwayat terjadinya suatu tempat atau wilayah. Contoh: Legenda Banyuwangi, Tangkuban Perahu, dan lain-lain.
- Sage, adalah cerita lama yang berhubungan dengan sejarah, yang menceritakan keberanian, kepahlawanan, kesaktian dan keajaiban seseorang. Contoh: Calon Arang, Ciung Wanara, Airlangga, Panji, Smaradahana, dan lain-lain.
- Parabel, adalah cerita rekaan yang menggambarkan sikap moral atau keagamaan dengan menggunakan ibarat atau perbandingan. Contoh: Kisah Para Nabi, Hikayat Bayan Budiman, Bhagawagita, dan lain-lain.
- Dongeng jenaka, adalah cerita tentang tingkah laku orang bodoh, malas atau cerdik dan masing-masing dilukiskan secara humor. Contoh: Pak Pandir, Lebai Malang, Pak Belalang, Abu Nawas, dan lain-lain.
2.4 5 (lima) komponen dalam prosa baru
1. Roman
Roman adalah bentuk prosa baru yang mengisahkan kehidupan pelaku utamanya dengan segala suka dukanya. Dalam roman, pelaku utamanya sering diceritakan mulai dari masa kanak-kanak sampai dewasa atau bahkan sampai meninggal dunia. Roman mengungkap adat atau aspek kehidupan suatu masyarakat secara mendetail dan menyeluruh, alur bercabang-cabang, banyak digresi (pelanturan). Roman terbentuk dari pengembangan atas seluruh segi kehidupan pelaku dalam cerita tersebut.
2. Novel
Novel berasal dari Italia. yaitu novella ‘berita’.
Novel adalah bentuk prosa baru yang melukiskan sebagian kehidupan pelaku
utamanya yang terpenting, paling menarik, dan yang mengandung konflik. Konflik atau
pergulatan jiwa tersebut mengakibatkan perubahan nasib pelaku. lika roman
condong pada idealisme, novel pada realisme. Biasanya novel lebih pendek
daripada roman dan lebih panjang dari cerpen. Contoh: Ave Maria oleh Idrus,
Keluarga Gerilya oleh Pramoedya Ananta Toer, Perburuan oleh Pramoedya Ananta
Toer, Ziarah oleh Iwan Simatupang, Surabaya oleh Idrus.
3. Cerpen
Cerpen adalah bentuk
prosa baru yang menceritakan sebagian kecil dari kehidupan pelakunya yang
terpenting dan paling menarik. Di dalam cerpen boleh ada konflik atau
pertikaian, akan tetapi hal itu tidak menyebabkan perubahan nasib pelakunya.
Contoh: Radio Masyarakat oleh Rosihan Anwar, Bola Lampu oleh Asrul Sani, Teman
Duduk oleh Moh. Kosim, Wajah yang Bembah oleh Trisno Sumarjo, Robohnya Surau
Kami oleh A.A. Navis.
4. Riwayat
Riwayat (biografi),
adalah suatu karangan prosa yang berisi pengalaman-pengalaman hidup pengarang
sendiri (otobiografi) atau bisa juga pengalaman hidup orang lain sejak kecil
hingga dewasa atau bahkan sampai meninggal dunia. Contoh: Soeharto Anak Desa,
Prof. Dr. B.J Habibie, Ki Hajar Dewantara.
5. Kritik
Kritik adalah karya
yang menguraikan pertimbangan baik-buruk suatu hasil karya dengan memberi
alasan-alasan tentang isi dan bentuk dengan kriteria tertentu yang sifatnya
objektif dan menghakimi.
C. Nilai-Nilai Dalam Prosa Fiksi
3.1 Pengertian prosa fiksi
Prosa fiksi ialah prosa
yang berupa cerita rekaan atau khayalan pengarangnya. Isi cerita tidak
sepenuhnya berdasarkan pada fakta. Prosa fiksi disebut juga karangan narasi
sugestif/imajinatif. Prosa fiksi berbentuk cerita pendek (cerpen), novel, dan
dongeng.
3.2 Nilai-nilai yang ada dalam prosa fiksi
1. Prosa fisksi memberikan
kesenangan
Keistimewaan kesenangan
yang diperoleh dari membaca fiksi adalah pembaca mendapatkan pengalaman
sebagaimana mengalaminya sendiri peristiwa itu atau kejadian yang dikisahkan.
Pembaca dapat mengembangkan imajinasinya untuk mengenal daerah atau tempat yang
asing, yang belum dikunjunginya atau yang tidak mungkin dikunjungi selama
hidupnya. Pembaca juga dapat mengenal tokoh-tokoh yang aneh atau asing tingkah
lakunya atau mungkin rumit perjalanan hidupnya untuk mencapai sukses.
2. Prosa fiksi memberikan
informasi
Fiksi memberikan
sejenis informasi yang tidak terdapat di dalam ensiklopedi. Dalam nivel sering
kita dapat belajar sesiatu uang lebih daripada sejarah atau lapiran jurnalistik
tentang kehidupan masa kini, kehidupan masa lalu, bahkan juga kehiduoab yang
akan dating atau kehidupan yang asing sama sekali.
3. Prosa fiksi memberikan
warisan kultural
Prosa fiksi dapat
menstimulai imajinasi, dan merupakan sarana bagi peminfajan uang tak
henti-hentinya dan warisan budaya bangsa. Novel se[erti Siti Nurbaya, salah
asuhan, sengsara membawa nikmat, layar terkembang mengungkapkan impian-impian,
harapan-harapan, aspirasi-aspirasi dari generasi yang terdahulu yang seharusnya
dihayati oleh generasi kini. Novel yang berlatar belakang perjuangan revolusi
seperti jalan taka da ujung, missal menggambarkan suatu tindakan heroism yang
mengagumkan dan memberikan kebanggaan, yang oleh generasi muda sekarang tidak
lagi mengalami secara fisik. Dan oleh karena mahasiswa tidak mengalami secara
fisik itulahm jiwa kepahlawanan perlu disentuh melalui hasil-hasil sastra.
4. Prosa memberikan
keseimbangan wawasan
Lewat prosa fiksi
seseorang dapat menilai kehidupan berdasarkan pengalaman-oengalan dengan banyak
individu. Fiksi juga memungkinkan lebih banyak kesempatan untuk memilih
respon-respon emosional atau rangsangan aksi yang mungkin sangat berbeda
darioada aoa yang disajikan dalam kehidupan sediri.
Adanya semacam kaidah
kemungkinan yang tidak munkindalam fiksi inilah yang memungkinkan pembaca untuk
dapat memperluas dan memperdalam persepsi dan wawasannya tentang tokoh, hidup
dan kehidupan manusia. Dari banyak memperoleh pengalaman sastra, pembaca akan
terbentuk keseimbangan wawasannya, terutama dalam menghadapi
kenyataan-kenyataan di luar dirinya yang mungkin sangat berlainan dari
pribadinya. Seorang dokter yang dianggap memiliki status social tinggi, tetapi
tenyata mendatangi perempuan simpanannya walaupun denga alasan-alasan
psikologis, seperti dikisahkan dalam novel belenggu, adalah cintih kemungkinan
yang tidak mungkin. Tetapi justru dari sinilah pembaca memperluas perspektifnya
tentang kehidupan manusia.
3.3 Contoh karya sastra
- Marah Rusli : Siti Nurbaya (1922)
- Tulis Sutan Sati : Tidak Membalas Guna (1932)
3.4 Contoh Prosa
Monyet dan Ayam
Pada suatu zaman, ada
seekor ayam yang bersahabat dengan seekor monyet. Si Yamyam dan si Monmon
namanya. Namun persahabatan itu tidak berlangsung lama, karena kelakuan si
Monmon yang suka semena-mena dengan binatang lain. Hingga, pada suatu petang si
Monmon mengajak Yamyam untuk berjalan-jalan. Ketika hari sudah petang, si
Monmon mulai merasa lapar. Kemudian ia menangkap si Yamyam dan mulai mencabuti
bulunya. Yamyam meronta-ronta dengan sekuat tenaga. “Lepaskan aku, mengapa kau
ingin memakan sahabatmu?” teriak si Yamyam. Akhirnya Yamyam, dapat meloloskan
diri.
Ia lari sekuat tenaga.
Untunglah tidak jauh dari tempat itu adalah tempat kediaman si Kepiting. si
Kepiting merupakan teman Yamyam dari dulu dan selalu baik padanya. Dengan
tergopoh-gopoh ia masuk ke dalam lubang rumah si Kepiting. Di sana ia disambut
dengan gembira. Lalu Yamyam menceritakan semua kejadian yang dialaminya,
termasuk penghianatan si Monmon.
Mendengar hal itu
akhirnya si Kepiting tidak bisa menerima perlakuan si Monmon. Ia berkata, “Mari
kita beri pelajaran si Monmon yang tidak tahu arti persahabatan itu.” Lalu ia
menyusun siasat untuk memperdayai si Monmon. Mereka akhirnya bersepakat akan
mengundang si Monmon untuk pergi berlayar ke pulau seberang yang penuh dengan
buah-buahan. Tetapi perahu yang akan mereka pakai adalah perahu buatan sendiri
dari tanah liat.
Kemudian si Yamyam
mengundang si Monmon untuk berlayar ke pulau seberang. Dengan rakusnya si
Monmon segera menyetujui ajakan itu karena ia berpikir akan mendapatkan banyak
makanan dan buah-buahan di pulau seberang. Beberapa hari berselang, mulailah
perjalanan mereka. Ketika perahu sampai di tengah laut, Yamyam dan kepiting
berpantun. Si Yamyam berkokok “Aku lubangi ho!!!” si Kepiting menjawab “Tunggu
sampai dalam sekali!!”
Setiap kali berkata
begitu maka si Yamyam mencotok-cotok perahu itu. Akhirnya perahu mereka itu pun
bocor dan tenggelam. Si Kepiting dengan tangkasnya menyelam ke dasar laut,
sedangkan Si Yamyam dengan mudahnya terbang ke darat. Tinggallah Si Monmon yang
berteriak minta tolong karena tidak bisa berenang. Akhirnya ia pun tenggelam
bersama perahu tersebut.
(Disarikan dari
Abdurrauf Tarimana, dkk, “Landoke-ndoke te Manu: Kera dan Ayam,” Cerita Rakyat
Daerah Sulawesi Tenggara, Jakarta: Dept. P dan K, 1978, hal. 61-62).
D.Ilmu Budaya Dasar yang Dihubungkan Dengan Puisi
4.1 Pengertian Puisi
Pusisi adalah sebuah seni tertulis. Dalam bentuk seni ini,
seorang penyair menggunakan bahasa untuk menambah kualitas estetis pada makna
semantis.
Penekanan pada segi estetik suatu bahasa dan
penggunaan sengaja pengulangan, meter dan rima adalah yang membedakan puisi
dari prosa. Namun perbedaan ini masih diperdebatkan. Pandangan kaum awam
biasanya membedakan puisi dan prosa dari jumlah huruf dan kalimat dalam karya
tersebut. Puisi lebih singkat dan padat, sedangkan prosa lebih mengalir seperti
mengutarakan cerita. Beberapa ahli modern memiliki pendekatan dengan
mendefinisikan puisi tidak sebagai jenis literatur tetapi sebagai perwujudan
imajinasi manusia, yang menjadi sumber segala kreativitas. Selain itu puisi
juga merupakan curahan isi hati seseorang yang membawa orang lain ke dalam
keadaan hatinya.
4.2 Kreativitas penyair dalam membangun puisinya
1. Figura bahasa
(figurative languange) seperti gaya personifikasi, metafora, perbandingan,
alegori, dsb sehingga puisi menjadi segar, hidup, menarik dan memberikan kejelasan gambaran angan.
2. Kata-kata yang
ambiquitas yaitu kata-kata yang bermakna ganda, banyak tafsir.
3. Kata-kata berjiwa yaitu
kata-kata yang sudah diberi suasana tertentu, berisi perasaan dan pengalaman
jiwa penyair sehingga terasa hidup dan memukau.
4. Kata-kata yang
konotatif yaitu kata-kata yang sudah diberi tambahan nilai-nilai rasa dan
pengalaman jiwa penyair sehingga terasa hidup dan memukau.
5. Pengulangan, yang
berfungsi untuk mengintensifkan hal-hal yang dilukiskan, sehingga lebih
menggugah hati.
4.3 Alasan-alasan yang mendasari penyajian puisi dalam IBD
1. Hubungan puisi dengan pengalaman hidup manusia
Perekaman dan
penyampaian pengalaman dalam sastra puisi disebut ‘’pengalaman perwakilan’’.
Ini berarti bahwa manusia senantiasa ingin memiliki salah satu kebutuhan
dasarnya untuk lebih menghidupkan pengalaman hidupnya dari sekedar kumpulan
pengalaman langsung yang terbatas.
Pengalaman terhadap
pengalaman perwakilan itu dapat dilakukan dengan suatu kemampuan yang disebut
‘’imaginative entry’’, yaitu kemampuan menghubungkan pengalaman hidup sendiri
dengan pengalaman yang dituangkan penyair dalam puisinya.
2. puisi dan keinsyafan/ kesadaran individual.
Dengan membaca puisi mahasiswa
dapat diajak menjenguk hati manusia, baik diri sendiri maupun orang lain.
Karena melalui puisinya sang penyair menunjukan kepada bagian dalam hati
manusia , ia menjelaskan pengalaman setiap orang.
3. puisi dan keinsyafan sosial
Puisi juga memberikan
kepada manusia tentang pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial , yang
terlibat dalam issue dan problem sosial. Secara imaginatif, puisi dapat
menafsirkan situasi dasar manusia sosial yang bisa berupa :
- Penderitaan atas ketidak adilan
- Perjuangan untuk kekerasan
- Konflik dengan sesamanya
- Pemberontakan terhadap hokum Tuhan
4.4 Contoh Puisi
“AKU”
Chairil Anwar
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih perih
Dan akan akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Sumber :
http://smoeland.blogspot.com/2011/10/pengertian-sastra-dan-seni-peranan.html
https://inzanami.com/pengertian-seni/
https://putuwijaya.wordpress.com/2007/11/07/peranan-sastra/
https://noviauligurning.wordpress.com/2014/10/17/hubungan-ilmu-budaya-dasar-dengan-sastra/
https://id.wikipedia.org/wiki/Prosa
https://aisyahtyasmaharani.wordpress.com/2013/11/10/nilai-nilai-dalam-prosa-fiksi/
https://revitriafto.wordpress.com/2012/11/01/contoh-contoh-prosa/
https://id.wikipedia.org/wiki/Puisi
https://www.satujam.com/puisi-chairul-anwar/
No comments:
Post a Comment